Produksi Tempe Anjlok Hingga 60 Persen, Kurangi Ukuran Tahunya Pengusaha Malah Diomeli Pelangganya

Ekonomi Eksekutif Imfpor Nasional News Nilai Tukar Polewali Mandar
Bagikan

POLEWALI MANDAR,LINI1.COM – Melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dollar yang memicu harga kedelai imfor melambung hingga Rp 8.000 perkiogram, mulai berdampak pada pengusaha tahu dan tempe di polewali Mandar, Sulawesi Barat. Produksi sejumlah pengusaha tahu dan tempe berskala besar di polewali mandar sulawesi barat turun hingga 60 persen dari biasanya. Upaya pengusaha mensiasati usahanya agar tetap berjalan dan tidak tutup dengan cara mengurangi ukuran tahu dan tempe dari ukuran biasanya malah menuai omelan dari sejumlah pelanggannya.

 

Pengusaha tahu dan tempe bersakala besar milik Hajja Muhti di Desa Sugiwaras, Kecamatan Wonomulyo Polewali Mandar mulai kedodoran mensiasati mahalnya harga kedele imfor sebagai bahan baku utama produksi tahu dan tempe mereka.

 

Jika sebelumnya ia bisa memproduksi tahu dan tempe hingga (lima)  5 kuintal perhari, namun sejak dua pekan terakhir produksinya turun hanya dua kuintal atau 40 persen dari produksi normal biasanya.

 

Hajja muhti, yang mengelola usaha produksi tahu dan tempe  secara turun temurun di Desa Sugiwaras ini mengaku memproduksi tahu dan tempe berdasarkan pesanan pelanggannya dari berbagai daerah seperti Mamasa, Polewali Mandar, Majene, Mamuju, bahkan keluar propinsi seperti Kabupaten Pinrang. Sebagain pelanggannya datang ke tempatnya, namun pelanggan luar daerah biasnay dikirim ke daerah masing-masing.

 

“Biasanaya bisanya dua sampai 5 kuintal perhari, tapi sekarang hanya dua kuintal saja. Kita produksi disesuaikan permintana saja saat ini,”jelas Hajja Muhti, pengusaha tahu dan tempe di Desa Sugiwaras

 

Menurut Hajja Muhti, produksi tempe yang biasanya mencapai 6 kuintal perhari berdasarkan jumlah pesanan pelanggannya sehari sebelu masa produksi setiap harinya, kini turun drastis lantaran rata-rata pelanggannya di berbagai daerah mengurangi pesanan mereka. Sebagian bahkan menghentikan pesanan sementara karena alasan mahal.

 

Agar usaha produksi tahu dan tempe milik Hajja Muhti yang ia kelola secaraturun temurun tersebut bisa tetap bertahan dan berproduksi, ia terpaksa mensiasati keadaan dengan cara mengurangi ukuran tahu dan tempe, dari ukuran biasanya. Namun cara ini justru menuai omelan pedas dari sejumlah pelanggan setianya.

 

Agar relasi bisnisnya tetap terjaga, hajja muhti berusah menelaskan alasan ia mengurangi ukuran tahu dna tempe karena alasan harga kedelei saat ini melambung tinggi. Sebagain memang bisa menerima dan memaklumi keadaan, namun tak sedikit yang mengomel atau memperotes pengurangan ukuran tahu dan tempe dari biasanya.

 

Turunnya produksi tahu dan tempe secara drastis membuat masa kerja belasan karyawannya hanya beroperasi hingga siang hari. Selebihnya istirahat.

 

Seperti pengusaha tahu dan tempe lainnya, Hajja Muhti berharap pemerintah bisa segera mensiasati keadaan agar usaha produksi tahu dan tempe miliknya yang sudah berjalan puluhan tahun, tidak tutup alias bangkrut, karena daya beli pelanggannya yang tidak terjangkau.

 

Pedagang tahu dna tempe keliling pun ikut mengeluh. Sejak ukuran tahu dna tempe dikurangi menjadi lebih kecil dan tipis banyak pelanggan kini lebi memilih membeli lauk pauk lainnya daripada tempe dan tahu. Alasannya mahal dan ukuran tahu tempenya lebih kecil.

 

“Saya biasa bawa sampai 20 kantongan tahu, sekarang hanya bawa delapan kantongan saja. Itu pun susah laku,”jelas Samiren, salah satu pedagang sayur keliling di Takatidung Polewali Mandar mengeluhkan dampak kenaikan harga kedele yang berimbas padaharga tahu dna tempe di pasaran. (MPOL-03).

 

Gabung Bersama di Channel Youtube Kami : Lininews1


Bagikan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *