Pengungsi di Puncak Gunung Hidup Mengemis Belaskasihan dari Pengendara

Bencana Alam Gempa Listrik Nasional News
Bagikan

DONGGALA,LINI1.COM – Untuk bertahan hidup di tengah minimnya pasokan makanan, para pengungsi dan anak-anak mereka di desa Limboro, Kecamatan Banawa Tengah, Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah, terpaksa hidup mengemis dari belaskasihan para pengendara atau warga yang menaruh simpati dengan dengan kondisi kehidupan mereka. Para pengungsi yang masih trauma memilih bertahan di dataran tinggi menyusul masih sering terjadi getaran gempa kecil pasca tsunami, Jumat petang lalu.

Ratusan warga Desa Limboro, Kecamatan Banawa Tengah, Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah ini masih tetap bertahan di tempat pengungsian di puncak pegunungan donggala. Kamis (4/102018). Mereka mengungsi dari rumah mereka pasca gempa dan tsunami, yang memporak-porandakan donggala dan palu, jumat petang lalu.

Nurlalea, salah satu pengungsi yang kehilangan rumah, harta benda dan sejumah angggota keluarganya, meski ia lolos dengan beberapa anak dan suaminya, namu nurlaela mengaku kehilangan ibu yang dicintainya. Ia menjadi korban gempa dna tsunam yang datang menyapu desanya.

BERTAHAN DI PENGNSIAN DI PUNCK GUNUNG 003

Ratusan pengungsi yang hidup memperihatinkan di loksi ini tampak masih trauma dna enggan balik ke desanya.

Mereka masih trauma dan takut untuk kembali ke rumahnya pasca gempa dan tsunami mengguncang palu dan sekitarnya, menyusul hampir setiap hari terjadi gempa-gempa kecil yang dirasakan warga.

Seperti pengungsi lainnya yang tidur di bawah tenda berlas terpal, mereka mengaku hingga saat ini tak sedikit pun bantuan menyentuh mereka. Pada hal mereka sangat membutuhkan bantuan beras, air bersih dan selimut.

Untuk bisa bertahan hidup di tengah minimnya pasokan makanan terutama beras, nurlela mengaku terpaksa mengemis belas kasihan dari para pengendara yang lalu lalang di sekitar tenda pengungsian, atau meminta maknan dari warga terdekat dari lokasi pengungsian.

“kami belum bisa pulang, takut dan tidak tahu kemana, rumah saya hancur orang tua saya meninggal dunia dalam musibah bencana kemarin,”JELAS Nurlela.

Nurlela mengaku sedih dan bingung, harus pulang ke mana nantinya, lantaran rumah dan harta benda yang ia kumpulkan bertahun-tahun bersama suaminya hancur rata denan tanah setelah disapu tsunami.

Pengungsi lainnya, Kalsum yang terpasa melahirkan d tenda darurat Rabu kemarin megaku bingung tidak tahu haru pulang ke mana karena rumahnya hancur diterjang gempa dan Tsunami.

‘Tidak tahu jelas kapan kami tinggalkan tenda pengungsian.Ini juga lagi bingung karena ruma hancur diterjang Tsunami,”tutur Kalsum.

Seperti pantauan kami di lokasi pengungsian, di desa Desa Tosale Kecamatan Banawa Selatan terdapat sekitar 560 kepala keluarga. Umumnya mereka mengungsi di pebuitan atau dataran tinggi di 9 titik lokasi pengungsian. Sedang di kecamatan baan tengah terdapat sekitar510 kepala kelurga yang hidup memeprhatinkan di baah tendapengungsian. (MDONG-18).

Gabung Bersama di Channel Youtube Kami : Lininews1


Bagikan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *