Menderita Kelainan Otak Atau Mikrosefalus, 2 Tahun Bocah Vani Hanya Tidur dan Terbaring di Tempat

Anak dan Problematikanya Mamasa Nasional News
Bagikan
  • 1
    Share

MAMASA,LINI1.COM – Diduga mengalami kelainan perkembangan otak atau mikrosefalus sejak jatuh sakit dan kejang-kejang akibat demam tinggi yang dideritanya, vani agrisela, seorang bocah 2 tahun bocah di mamasa sulawesi barat hanya bisa tertidur dan terbaring di tempat, tanpa bisa melihat atau menggerakkan badannnya. Meski dokter telah menyarankan agar bocah vani segera dirujuk ke dokter ahli, namun karena alasan ketiadaan biaya bocah vani hanya teronggok di rumahnya setiap hari.

Bocah vani agrisela (2 tahun) asal desa mannababa, kecamatan tanduk kalua, kabupaten mamasa sulawesi barat ini hanya bisa teronggok tak berdaya di tempat tidur. Jangankan bisa mengerakkan badannya, bcah in juga tak bisa melihat dna bicara seperti nak-anak normal seusianya. Dokter yang memeirksa vani sejak lahir memvonis menderita kelainan perkembangan otak, yang dalam istilah kedokteran/medis disebut mikrosefalus.

Mikrosefalus sendiri adalah kelainan otak yang ditandai dengan perkembangan ukuran kepala lebih kecil dari ukuran kepala rata-rata berdasarkan umur dan jenis kelamin. Dikatakan lebih kecil jika ukuran lingkar kepalanya dari 42 cm atau lebih kecil dari standar deviasi 3 di bawah angka rata-rata.

Mikrosefalus dapat terjadi karena infeksi yang menyebabkan kerusakan otak pada bayi yang sangat muda (misalnya meningitis dan meningoensefalitis). Mikrosefalus menyebabkan keterbelakangan mental pada anak.

Menurut Lidia Yanti, ibu balita penderita penyakit ini, tanda-tanda anaknya menderita kelaina otak telah muncul sejak balita ini berumur 8 bulan, saat itu dia kejang-kejang dan panas tinggi. Meski anak ini terlahir dengan berat badan yang normal lebih dari 3 kilo gram, namun setelah mengalami kejang-kejang selama 2 minggu, berat badannya tak pernah lagi bertambah hingga saat ini yakni hanya 6 kg, bahkan saat terakhir ditimbang kamis kemarin (27/9/2018) berat badannya turun hingga 5,5 kg.

“Dulu dia lahir normal dan sehat. Anaknya cukup aktif, namun sejak mengalami demam tinggi dan kejang-kejang perkembangannya jadi tidak biasa. Tidak bisa menggerakkan badan, tidak bisa bicara termasuk tidak bisa melihat,”tutur Lidia Yanti, Ibu Penderita Mikrosevali

GAMBAR 1 002

Dokter Di Puskesmas Malabo, Dokter Arni membenarkan balita vani menderita penyakit mikrosepalus atau kepala mengecil. Penyakit ini menyebakan pertumbuhan anak berjalan tidak normal. Meski usianya sudah dua tahun lebih, namun vani belum bisa duduk, bicara dan tdak bisa mendengar atau merespon keadaaan sekitarnya, sebagaimana anak-anak normal seusianya.

Dokter telah menyarankan agar bocah vani segera dirujuk ke dokter ahli atau ke rumah sakit.

“Karena perkembangan otak tidak normal atau Mikrosefalus Vani tak bisa duduk, bicara dan tidak bisa melihat seperti anak-anak normal seusianya,”jelas Dr. Arni, Dokter Puskesmas Malabo.

GAMBAR 2 001

Meski balita vani agrisela memiliki kartu indonesia sehat, namun karena alasan biaya ia tak kunjung mebawa anaknya ke dokterahli. Lidia menyebutkan, pendapatannya suaminya sebagai pekerja buruh kebun, sudah cukup kesulitan biaya hidup selama anaknya bolak balik menjalani perawatan dari pueksesmas ke puskesmas atau ke ruamh sakit, apalagi harus mebawanya ke dokter ahli yang biayanya bisa mencapai puluhan juta. (MAS-03).

Gabung Bersama di Channel Youtube Kami : Lininews1


Bagikan
  • 1
    Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *