Korban Tertimpa Bongkahan Batu Besar, BPBD Sulbar Tak Bisa Kerahkan Alat Berat

Bencana Alam Longsor Penomena Alam
Bagikan

POLEWALI MANDAR,LINI1.COM – Satu dari dua korban tewas tertimbun reruntuhan gunung batu yang longsor di Desa Taramanu Tua, Kecamatan Tutar, Polewali mandar Sulawesi barat, akhir Nopember lalu, hinga kini masih tertimbun bongkahan batu. Upaya pencarian korban secara manual menggunakan linggis, sekop dan peralatan lainnya yang dilakuan pihak keluarga dan aparat pemerintah setempat, kewalahan mengeavakuasi bongkahan batu berbobot puluan ton. Pemerintah Propinsi dalam hal ini BPBD Sulbar kesulitan mengerahkan alat berat lantaran tak ada akses jalan yang bisa tembus ke lokasi bencana.

Upaya pencarian Darmi, satu dari dua korban yang tertimpa longsor gunung batu tak kunjung mebuahkan hasil. Upaya warga dan aparat pemerintah mencari korban di sela-sela batu sambil mebongkar reruntuhn batu berukuran kecil yang saling bertindihan untuk mencari korban, namun hingga kini jejak korban yang diduga tertimpa bongkahan batu besar tersebut belum ditemukan.

Untuk menjangkau lokasi longsor, warga harus menelusuri jalan tebing atau jalan setapak yang licin di pinggir sungai.

Meski pencarian korban secara manual sudah tak mampu dilakukan lagi, namun pemerintah kesulitan mengerahkan alat berat ke lokasi lantaran tak ada akses jalan tembus hingga ke lokasi longsor.

0750312182_SULBAR_KORBAN TERTIMPA BONGKAHAN BATU BESAR 2A 004

Masyarakat juga tidak berani melakukan pencarian berada di bawa tebing batu setinggi lebih dari 50 meter karena bongkha batu masih sering brjatuhan dan nyaris menimpa warga saat melakukan pencarian korban.

Cuaca hujan yang kurang bersahabat juga dikwatirkan warga sungai Taramanu sewaktu-waktu bisa neluap saat warga melakukan pencarian korban

BPBD propinsi Sulbar yang berkunjung ke lokasi kejadian dan bersilaturrahmi dengan para keluarga korban dan menyerahkan bantuan sembako dan dana Rp 5 juta menyebutkan, untuk mengevakuasi korban yang diduga tertindih bongkahan batu besar, satu satunya cara adalah mengerahkan alat berat mengunakan eskapator, namun karena kondisi medan yag tak bisa diakses pemerintah kesullitan menegrakan alat berat.

Petugas BPBD Sulbar, Suandi menyatakan, melihat situasi dan kondisi medan berup bebatuan esar bertonse puluhan ton agak sulit dievakuasi denagn cara manual. Sementara untuk menjangkau lokasi melalui jalan tebing yang licin dan sempit sangat tidak mungkin dilalaui alat berat.

“Khusus untuk satu korban yang belum ditemukan karena tertimbun reruntuhan bongkahan batu besar sangat sulit dievakuasi karena tak ada akses jalan untuk mobilisasi alat berat,”jelas Suandi.

Keluarga korban Darmi, Mahmuddin menjelaskan korban berjalan bersama delapan keluarga dan tetangga lainnya di tebing batu yang licin di sungai Taramanu, usai mencari kemiri di kebunnya. Saat meintasi jalan setapak yang licin gunung btu tiba-tiba ambruk dan menimpa korban.

“Keluarga pasrah saja karena melihat kondisi medan memang agak sulit dijangkau alat berat,”tutur Mahmuddin

Karena kondisi medan yang sulit dijangkau sarana transfortasi termasuk alat berat, pihak keluara korban hanya pasrah dan tak banyak menuntut aparat pemda dan tim sar untuk menemukan keluarganya yang masih tertimbu reruntuhan atau bongkahan batu hingga puluhan ton di lokasi. (K25-11/Junaedi)

 

 


Bagikan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *