Kisah Tangis Bocah Pengungsi Minta Nasi Karena Lapar di Perjalanan Mengundang Simpati Warga Dirikan Posko Makanan di Jalur Pengungsian

Bencana Alam Gempa Nasional News Polewali Mandar Sulawesi
Bagikan
  • 1
    Share

POLEWALI MANDAR,LINI1.COM Kisah tangis sejumlah bocah korban gempa tsunami yang kelelahan dan lapar saat tidur dan beritirahat sejenak di salah satu SPBU di kota Polewali Mandar, Sulawesi barat, Rabu (3/10/2018) malam lalu mengundang simpati dan keperihatinan komunitas remaja mesjid di Polewali Mandar, Sulawesi barat untuk mendirikan posko relawan kemanusiaan.

Mereka pun berpatungan menyediakan makanan, kue dan minuman bagi para pengungsi yang melintas di jalur trans lintas barat sulawesi, salah satu jalur pengungsian pasca bencana gempa tsunami, Jumat pekan lalu.

“Miris juga menyaksikan kondisi pengungsi dan anak-anak mereka yang menangis karena lapar. Tak ada warung makan di dekat pertamina. Mereka lalu berinisiatif dan berpatungan untuk menyediakan makanan dan minuman bagi siapa saja pengungsi yang melintas dan membutuhkan,”jelas Jafar

Muhamamd Jafar, pembina remaja mesjid Nurul Huda (Irnuda) Polewali mandar menyebutkan, ide untuk mendirikan posko kemanusiaan untuk membantu menyediakan makanan, Minuman dan keperluan pengungsi pasca bencana gempa tsunami, yang lalu lalang di jalur lintas barat Sulawesi termasuk di Polewali Mandar bermula ketika rombongan remaja mesjid Irnuda tengah menjenguk para pengungsi di salah satu SPBU di kota Polewali mandar.

Para remaja ini terenyuh dan terpanggil ketika ia menyaksikan kondisi miris sejumlah anak-anak yang lapar di tengah rombongan pengungsi yang kelelahan menempuh perjalanan jauh, merengek sambil menangis minta nasi karena lapar.

Upaya sang ibu membujuk dan menenangkan bocah yang terus meminta nasi ini tak kunjung berhasil. Beberapa bocah yang tak bisa diajak berdamai dengan keadaan itu tampak baru sedikit tenang ketika sejumlah warga yang menjenguk mereka di tempat persinggahan, sebelum melanjutkan perjalan mereka ke daerah tujuan Soppeng dan Bone tersebut, mengulurkan makanan ringan biscuit, barulah bocah itu tampak sedikit tenang saat menikmati biscuit di tangannya.

“Bagaimana bisa diajak tenang kalau perutnya lapar, pasti ngamuk terus minta makan,”ujar warga lainnya yang juga ikut prihatin saat menjenguk pengungsi sambil menyodorkan makanan ringan biscuit dan mie kepada sang bocah.

Mulanya para remaja pria dan wanita yang tergabung dalam Ikatan Remaja Mesjid Nurul Huda (Irnuda) Polewali Mandar ini berpatungan mengumpulkan kocek atau isi kantong sendiri untuk membeli sembako guna membantu para pengungsi yang sedang membutuhkan bantuan makanan dan minuman, tanpa memandang latar belakang identitas sosial, agama, ras, etnis dan asal usul keturunan mereka.

Dalam sekejap mereka mengumpulkan uang lebih dari Rp 1,5 juta rupiah. Tak ingin mengulur waktu lama, Dana yang terkumpul malam itu kemudian mereka gunakan untuk membeli bahan kebutuhan pokok seperti beras, minya goreng, telur, ayam dan ikan untuk persiapan lauk pauk.

Dengan bekal kemampuan dan ketrampilan mereka memasak sendiri, Para remaja ini tak kesulitan menyediakan aneka makanan, minuman termasuk kopi dan teh hangat untuk para pengungsi. Dengan bergotog royong di dapur mereka bisa menyediakan makana dan minuman untuk para pengungsi.

Belakangan gerakan peduli sosial yang dimotori para remaja, untuk membantu meringankan para pengungsi dan anak-anak mereka secara suka rela ini mendapat simpati publik Polewali Mandar. Mulanya mereka memang mengumpulkan kocek sendiri untuk membiayai kegiatan amal tersebut, belakangan warga rame-rema datang mengulurkan beragam bantuan sumbangan apa saja kepada mereka. Mulai dari sumbangan dana, kebutuhan beras, telur hingga kopi dan gula. Para remaja ini hanya mengumumkan kegiatan amal mereka melalui pengeras suara di mesjid.

Warga yang menyambut positif gerakan peduli sosial para remaja ini tak hanya mengulurkan bantuan dana dan kebutuhan beras dan lauk pauk lainnya, mereka juga mengulurkan jasa untuk ikut terlibat menjadi juru masak atau master chief untuk menyediakan makanan nasi bungkus dan lauk pauk untuk para pengungsi.

Untuk menghagatkan badan para pengungsi yang mampir secara bergantian di pos ronda yang sulap menjadi posko pengungsi ini, para remaja juga menyediakan minuman kopi dan teh hangat untuk menyegarkan kondisi pisik para pengungsi.

“Mulanya remaja sendiri yang sibuk mengumpulkan dana dan mengolah masakan sendiri sebelum dibagikan kepada para pengungsi, terutama anak-anak yang membutuhkan makanan atau minuman, belakangan wargalah yang menyumbang, termasuk ikut berpartisipasi memasak dan menyedikan makanan untuk pengungsi. Sedang remajanya kini bertugas membagikan kepada pengungsi yang melintas di jalan trans sulawesi,”papar Jafar.

Para korban bencana asal Palu dan Donggala ini  mengungsi ke berbagai daerah tujuan kabupaten di Sulbar Dan Sulawesi Selatan, bahkan luar pulau sulawesi seperti Ternate, Ambon dan daerah lain tanpa persiapan bekal dan biaya yang memadai. Maklum mereka tak tak hanya kehilangan harta benda dan rumah pasca bencana, tapi sebagian mereka berduka karena kehilangan anggota keluarga, karena tak berhasil menyelamatkan diri saat bencana gempa tsunami datang menyapu.

Umumnya warga Donggala dan Palu yang menjadi korban bencana gempa tsunami mengungsi karena alasan stres setiap hari hanya bisa menyaksikan reruntuhan puing bangunan rumah warga yang berserakan, Mereka bingung bagaimana memulai hidup mereka dari nol kembali pasca bencana.

“Kita malah tambah stres menyaksikan reruntuhan bangunan menumpuk dan lainnya berserakan di jalan. Kita bingung dan tidak bisa beraktifitas mencari kerja untuk hidup. Makanya saya pilih mengungsi sementara bersama kelluarga sambil mencari suasana tenang, sebelum kembali berpikir bagaimana memulai hidup dari awal,”tutur Rusdi, pengungsi asal pangkep Sulawesi selatan.

Namun Rusdi mengaku bangga dan legah, karena di sepanjang rute perjalanan pengungsi dari kota Palu dan Donggala melalui jalur lintas barat Sulawesi mulai dari kabupaten Pasangkayu, Mamuju tengah, Majene hingga Polewali Mandar mereka disambut uluran tangan warga yang menyediakan makana dan minuman secara suka rela di sepanjang jalan.

“Kita sedih tapi bangga juga karena ternyata banyak saudara-saudara kita turut prihatin dan mendoakan. Mereka bahkan menyediakan makanan dan minuman di sepanjang jalan tanpa harus dibeli para pengungsi yang butuh makan dan minum di jalan,”jelas Rusdi. (MPOL-23).

Kisah Tangis Bocah Pengungsi Minta Nasi Karena Lapar di Perjalanan Mengundang Simpati Warga Dirikan Posko Makanan di Jalur Pengungsian

 

Gabung Bersama di Channel Youtube Kami : Lininews1


Bagikan
  • 1
    Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *