Kelompok Penyandera 2 TKI Minta Tebusan Rp 14 Milyar Lebih

Abu Sayyaf Hukum Majene Nasional News Polewali Mandar Presiden Sulawesi
Bagikan
  • 1
    Share

POLEWALI MANDAR,LINI1.COM – Dua TKI asal Kabupaten Majene dan Polewali Mandar, Sulawesi Barat yang disandera kelompok bersenjata di perairan Semporna Malaysia, sejak lebih dari sebulan di kawasan hutan Philipina, hingga kini tak kunjung dibebskan dari tawanan. Yulianti, istri Usman Yunus, salah satu tki asal Polewali Mandar yang disandera, hanya bisa menghitung hari sambil berdoa setiap kali usai sholat, agar suami yang menjadi tulang punggung di keluarganya itu kelak bisa dibebaskan dengan selamat dan berkumpul di tengah keluarga.

Yulianti istri Usman Yunus hanya bisa menghitung hari sambil terus menunggu kabar terbaru dari suaminya melalui handhone miliknya yang tak pernah ia matikan.

Sejak mendapat kabar buruk soal suaminya disandera kelompok garis keras, saat bekerja mencari ikan di perairan Malaysia, Selasa dinihari (11/9/2018) lalu, ia terus diliputi rasa cemas dan waswas menunggu kabar baik soal pembebasan suaminya.

Setiap kali ia sholat, ibu satu anak ini tak lupa mendoakan keselamatan Usman suaminya. Ia juga berdoa agar Usman yang menjadi tulang puggung dalam keluarga kecilnya itu bisa segera dibebaskan kelompok penyendera dengan selamat.

Setelah hampir sebulan tak mendapat kabar perkembangan terbaru tentang kondisi suaminya yang dikabarkan kini tengah sandera di kawasan hutan  di pilipina, selasa malam lalu, yulianti kembali shock dan tak bisa tenanng.

Yulianti kaget lantaran kelompok garis keras yang menyandera suaminya sejak lebih dari sebulan terakhir dikabarkan minta tebusan yang angkanya cukup pantastis, empat juta ringgit malaysia atau setara Rp 14 milyar lebih kepada perusahaan di tempat usman bekerja.

“Terakhir kemarin saya sempat bbicara menyatakan kesehatannya, katanya sduah tik sakit punggungnya. Cuma saja katanya kelompok penyendera minta tebusan 4 juta ringgit atau sekitar Rp 14 milyar lebih,”jelas Yulianai, mengutif percakapan denagn suaminya yag tiba-tiba menghubungi melalaui nomor kontak pernatara.

Ditemui di rumahya di Dusun Bruno, Desa Kebun Sari, Kecamatan Wonomulyo, Polewali Mandar Sulawesi Barat, Jumat Sore, Yulinati yang tak kuasa menahan tangis sedih, beberapa kali tampak berjuang dan berusaha bersabar menahan air mata.

Yulianti kerap hanya bisa memeluk putri simata wayangnya, Lia (5 tahun) sambil mengusap kepala anaknya hingga bisa terlelap tidur kala ia menanyakan kabar keberadaan ayahnya. Agar anaknya tak larut dalam kesediahan mengigat atau menanyakan kondisi keselamatan ayahnya, yualinati kerap hanya bisa mengibur putrinya dengan cerita kisah herok perjuangan sang ayah untuk menghidupi keluarga kecilnya.

ABU SAYYAF MINTA TEBUSAN 2 005

Lambaian tangan Usman Yunus (35 tahun), masih tergiang di kepala Yulianti dan anaknya Lia (5 thun) saat sang suami pamit ke negeri jiran malaysia meninggalkan istri dan seorang anaknya, di kampung halamannya, pada April 2018 atau sekitar enam bulan lalu sebelum ia mendapat kaber mengejutkan suaminya disnader kelompok garis keras di Pilipina.

Yulianti masih mengigat tekad suaminnya untuk teru berusaha menyekolahkan anaknya dan berencana mendirikan rumah sederhana di kampung halamannya dari jerih payahnya sebagai Tki di Malaysia.

Namun belum sempat mengirim gaji yang ia tabung untuk mewujudkan impiannya, Yulianti dan Lia (5 tahun) anaknya justru shock mendapat kabar mengejutkan, selasa dinihari (11/9/2018) lalu, melalui pesan singkat whatsup, milik fahri, salah seorang teman kerja usman, di sebuah perusahaan penangkapan dan pengolahan ikan di malaysia, yang selamat dari insiden penculikan kelompok orang bersenjata di perairan semporna sabah malaysia.

Seperti diberitakan sebelumnya, selain Usman Yunus, seorag rekannya Samsul Saguni (40 tahun) warga asal Majene Sulawesi Barat ikut disandera kelompok bersejata di perairan semprna malaysia sata tengah sibuk mencari ikan.

Yulianti berharap, pemerintah malaysia dan Indonesia melalui kementerian luar negeri melakukan upaya pembebasan suaminya yang disandera agar kelak bisa bebas dan selamat pulag ke ke kampung halamannya.

Yulianti tak bisa berkonsentrasi bekerja sejak suaminya dikabarkan ditahan kelompok bersenjata. Yulianti sendiri tidak bisa bebas menghubungi suaminya kapan saja hanya untuk sekedar menanyakan kodisi kesehatannya, lantaran nomor penghubung dengan pihak penyandera tak bisa dihubungi setiap saat.  (MPOL-13).

Ikuti Perkembangan Beritanya di : Kisah Perjuangan TKI di Perantauan

Kelompok Penyandera 2 TKI Minta Tebusan Rp 14 Milyar Lebih

Gabung Bersama di Channel Youtube Kami : Lininews1


Bagikan
  • 1
    Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *