Hendak Bangun Rumah Impian di Kampungnya, TKI Malah jadi Korban Penculikan Kelompok Bersenjata di Malaysia

Abu Sayyaf Eksekutif Hukum Kriminal Majene Nasional News Penculikan Polewali Mandar
Bagikan
  • 1
    Share

POLEWALI MANDAR, LINI1.COM – Lambaian tangan Usman Yunus (35 tahun), masih tergiang di kepala opera, yulianti saat ia pamit ke negeri Jiran Malaysia, seorang istri, di kampung halamannya, pada April 2018 atau sekitar lima bulan. Yulianti masih mengigat tekad suaminnya kompilasi keluarga dan kampung halamanya di Dusun Bruno, Desa Kebun Sari, Kecamatan Wonomulyo, Polewali Mandar Sulawesi Barat, untuk sebuah mimpi membangun rumah sederhana dan menyekolahkanasi, agar kelak keluarga kecilnya hidup lebih baik.

 

Namun belum pernah menulis gaji yang besar untuk mewujudkan impiannya, Yulianti dan Lia (5 tahun) dan terkejut, menekankan bahwa, Selasa dinihari (11/9/2018) lalu, melalui pesan singkat Whatsup dari Fahri, salah seorang teman kerja Usman, di perusahaan dan pengolahan ikan di Malaysia, yang selamat dari krisis penculikan oleh sekelompok orang bersenjata, Sempanga sabah Malaysia, Selasa dinihari.

 

Meski tidak jelas siapa saja kelompok penculik, termasuk motifnya, namun Fahri yang saat itu sedang mengupahkan saat-saat penculik menggiring dua rekannya masuk ke dalam penculik, menggunakan bahasa Sulu, salah satu bahasa di Pilipina.

 

Setelah empat hari pasca iniden penculikan dua TKI yang bekerja sebagai nelayan di sebuah perusahaan dan pengolahan ikan Semporna, sabah Malaysia, pihak keluarga Yulianti belum mendapat kabar dimana posisi termasuk kondisi kesehatan terakhir yang sedang mengalami sakit-sakitan.

 

Berdasarkan data dokumen keimigrasian, dua WNI menjadi fasilitas yang menjadi korban penculikan tersebut yaitu nama lengkap Samsul Saguni (40 tahun) dan Usman Yunus (35 tahun). Rugi adalah kelahiran Poniang, Kabupaten Majene, Sulawesi Barat. Usman sendiri menjadi warga Polewali Mandar, mengikuti jejak setelah resmi menikah dengan Yulianti beberapa tahun lalu.

Yulianti menuturkan, setelah menikah, membentuk Usman kemudian bekerja sebagai TKI di Malaysia degan harapan kelak ia bisa pulang dan memperbaiki taraf hidup keluarga. Maklum, sejak menikah beberapa tahun lalu hingga dikaruniahi seorang putri (Lia, 5 tahun) keluarga kecilya masih menumpang di rumah mertua.

 

Sewaktu menjadi buruh di Malaysia, Usman pernah bekerja sebagai buruh di ladang kelapa sawit di Johor Malaysia. Baru sekitar 5 bulan sekali ia bekerja sebagai nelayan, sebelum tua ia menjadi korban penculikan.

 

Seperti dituturkan Yulianti, mengutip cerita percakapannya dengan Fahri, rekan Usman yang selamat dalam penculikan tersebut menceritakan, Saat kedua TKI ini bekerja memancing di Semporna, Sabah Malayysia, Selasa dinihari lalu, tiba-tiba didatangi dan ditodong oleh sekelopok orang bersenjata.

 

Kedua korban Samsul Saguni (40 tahun) dan Usman Yunus (35 tahun) langsung digiring naik kapal milik penculik. Tampak logat dan bahasa dari percakapan mereka terdengar sepeti bahasa Sulu, salah satu bahasa Pilipina yang akrab d telinga warga Malysia.

 

Dalam sekejap pelaku yang membawa korban langsung menghilang dalam sekejap di neraka semporna Malaysia. Seperti halnya dalam penculikan serupa sebelumnya, kedua TKI tersebut dicut oleh kelompok yang sama.

 

Yulianti, istri Usman yang di temui di dusun Bruno, Desa Kebun Sari, Kecamatan Wonomulyo, Jumat sore (14/9/2018) kemarin mengakui mereka terakhir kali berkomunikasi dengan hari Senin (10/9) malam sebelum ia diculik. Namun pada saat itu, ia begitu kaget, setelah mendapat kabar penculikan oleh sekelompok orang bersenjata yang mengejutkannya.

 

“Senin malam (malam Selasa), sekitar jam 12, saya masih menelepon bapak sama, mengatakan dia sakit. Dia mau masuk ke rumah. Makanya saya juga kaget pak, karena teman langsung menelpon dari Malaysia,” ujarnya.

Selama Usman bekerja di Malaysia sebagai TKI mengggunakan doumen paspor, Yulianti dan Dasi Disebut Aliyyah tinggal bersama di rumah orang tuanya di dusun Bruno, Desa Kebun Sari, Kecamatan Wonomulyo.

Yulianti berharap, Pemerintah Malaysia dan Pemerintah Indonesia melalui kementerian luar negeri bisa melakukan upaya pembebasan kedua TKI yang disandera agar ia dapat bebas dan selamat dari penculikan.

 

Yulianti mengaku sangat cemas akan kepuasan, lantaran hingga kini ia tidak bisa mengkomunikasikan langsung dengan masalah, yang kini ada dalam tawanan para penculik.

 

“Semoga cepat bisa diselamatkan dan balik ke kampung halaman dnegan baik-baik saja,” tutur Yulianti sambil memeluk anak simata wayangnya, Aliyyah. (MPOL-03).

 

Hendak Bangun Rumah Impian di Kampungnya, TKI Malah jadi Korban Penculikan Kelompok Bersenjata di Malaysia

Gabung Bersama di Saluran Youtube Kami: Lininews1


Bagikan
  • 1
    Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *