Harga Kedelai Naik 2x, Pengusaha Tahu Tempe Polman dan Mamuju Kelimpungan Siasati Usahanya

Impor Kedelai Mamuju Nasional News Polewali Mandar
Bagikan

POLEWALI MANDAR,lini1.COM – Kenaikan harga kedelai impor selama dua kali dalam dua pekan terakhir membuat industri pengolahan tahu dan tempe di Polewali Mandar dan Mamuju, sulawesi barat berjalan terseot-seot mensiasati keadaan. Berbagai trik pun dilakukan untuk mempertahankan usaha mereka agar tetap berkelanjutan di musa sulit, seperti beralih menggunakan kedelai lokal, mengurangi poduksi dan ukuran tahu tempe, hingga merumahkan sejumlah karyawannya. Namun semua cara tersebut ternyata tak cukup jitu menggairahkan usaha mereka agar bisa bangkit dan pulih kembali.

Naiknya kurs dollar terhadap nilai tukar rupiah membuat harga kedelai imfor ikut terdongkrak naik. Selama dua pekan terakhir harga kedelai imfor di Mamuju mengalami dua kali kenaikan. Semula naik dari Rp 8.000 menjadi Rp .400. sepekan kemudian naik lagi menjadi Rp 8.700 perkilogramnya.

Budi Santoso, pengusaha tahu dan tempe di Mamuju ini mengeluhkan kenaikan harga kedelai Impor yang mengalami kenaikan dua kali dalam sebulan terakhir. Untuk mensiasati agar usahanya bisa tetap berjalan ia terpaksa beralih menggunakan kedelai lokal meski ia prcaya kualitas tahu dna tempe dari kedelai lokal mutunya lebih rendah.

“Saya sekarang beralih pakai kedelai lokal meski kualitasnya tak sebagus kedelai impor. Kdelai lokal itu banyak kotorannya,”jelas Budi santoso.

Triono, pengusaha tahu tempe di kecamatan Wonomulyo Polewali Mandar, juga mengeluhkan mahalnya harga kedelai impor. Utuk mesiasati usahanya agar tetp berjalan, Triono melakukan berbagai langkah penghematan seperti mengyrangi ketebalan ukuran tahu dna tempe produksinya.

“Produksi tahu da tempenye biasa 7 sampai 8 kuintal perhari, sekarag turun hanya sekitar3 ata empat kuintal sehari,”jelas Triono.

Triono mengaku omset penjualan tahu dna tempe produksinya merosot tajam. Jika sebelumnya ia bisa meperoduksi tah dna tempe hingga 8 kuintal perhari, kini turun hanya tiga atau empat kuintal saja. Triono pun mepeorduksi tahu tempe menyesuikan minat atau permintaan pelanggannya saja.

Keluhan serupa juga datang dari Hajja Muhti, pengusaha tahu tempe lainnya di kecamatan Wonomulyo Polewali Mandar. Untuk tetap mepertahankan agar usaha tahu tempe turun temurun yang dikelola keluarganya tetap bisa berthan dna berproduksi sebagai sumber mata pencahariannya, Muhti mengaku mensiasatinya dnegan beragam trik seperti mengurangi ukuran ketebalan tahu dna tempenya, merumahkan sebagain karyawan semnetara sampai usahnaya kembali bergairah, hingga engurangi julah produksi hingga 60 persen dari biasanya.

Jika semula ia bisa meproduksi sampai 7 kuintal perhari, kini hanya memproduksi tahu dan tempa hanya dua atau tiga kuintal perhari.

Kebijakan mengurangi ukuran tahu ternyata tk berjalan mulus, Muhti mengaku mendapat hujan protes dari sejumah pelanggannya. Muhti pun mengku haru meluangkan waktu untuk memberi penjeleasn kepadapara pelanggan seianya mengenai alasan dirinya mengurangi ukuran tau dan tempe produksinya.

“Banyak yang protes karena ukurannya lebih kecil dari biasnaya. Saya terpksa jelaskan kalau itu dilakukan karena harga kedelai naik,”jelas Muhti.

TAHU TEMPE 011

Sebelumnya pabrik pembuat tahu ini mencetak tahu ukurannya agak besar dibanding sekarang. Pelanggannya pun banyak dan tidak pernah mengeluh, setelah nilai tukar rupiah melemah dari dollar maka ukuran tahu pun diperkecil. Akibatnya pelanggannya banyak yang mengeluhkan produksi tahunya.

Sejak harga kedelai naik, rata-rata pengusaha tahu tempe mengalami penurunan
Omzet produksi. Para pengusaha berharap berbagai kebijakan yang dilakukan untuk mensiasati usahanya ditengah perubahan harga kedelai yang menjadi bahan baku utama pembuatan tahu dan tempe tidak semakin memukul daya peli pelanggannya, agar ushanaya tetap bisa berjalan seperti biasanya. (SUL-07).

Gabung Bersama di Channel Youtube Kami : Lininews1


Bagikan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *