Penganiayaan

Dikeroyok 4 Pemuda, Kakek Protes Kerja Polisi Tangani Kasusnya

Hukum & Kriminal News Polewali Mandar
Bagikan

POLEWALI MANDAR,Lini1.com – Ismail (60 tahun), seorang kakek di Polewali Mandar sulawesi barat dikeroyok empat pemuda sekampungnya di tengah sawah, hingga dua gigi depannya copot. Meski sempat semaput dan berlumuran darah sang kakek yang tak berdaya ini sempat dicekik dan ditendang pelaku berkali-kali hingga jatuh tersungkur. Meski korban telah melaporkan kasus penganiayaan ini sejak 21 Agustus tahun 2017 lalu, hingga kini penanganagan kasusnya tak kunjung sampai ke pengadilan. Sang kakek dan keluarganya memperotes cara-cara kerja polisi yang dinilai tidak profesional dan jauh dari rasa keadilan.

 

Kasus penganiayan yang melibatkan kakek Ismail (60 tahun) dengan empat pemuda ini bermula ketika korban sebagai buruh tani ini diminta Mustakim, pemilik lahan tambak dan pertanian belasan hektar di Dusun Garassi, desa Nepo kecamatan Wonomulyo Polewali mandar, sulawesi barat, untuk menggarap lahan miliknya yang baru saja dimenangkan di pengadilan.

 

 

Ismail yang berprofesi sebagai petani penggarap ini mengaku bersedia menjadi penggarap lahan milik Mustakim karena secara hukum ia sah dan berhak sebagai pemilik lahan. Namun warga dusun Lamungan Desa Kurma kecamatan Mapilli, Polewali mandar ini tak menyangka saat sedang sibuk menggarap lahan milik orang lain demi sesuap nasi untuk istri dan anak-anaknya tersebut, tiba-tiba didatangi empat pelaku bersenjata parang dan tombak. Keempat pelaku yang diduga mengeroyoknya itu diketahu korban bernama Madjid, Aco, Ayu dan Azis.

 

 

Meski sang kakek tak mengadakan perlawanan, keempat pelaku diduga meninju wajah korban secara bermaia-ramai hingga dua gigi depannya copot. Dalam keadaan tersungkur korban dicekik dan ditendang bebeberapa kali. Korban juga mengaku beberapa kali ditodong senjata parang dan diancam akan dibunuh pelaku.

 

 

Merasa tak bersalah dalam kasus ini Ismail dan keluarga kemudian melaporkan kasus yang melibatkan empat pelaku tersebut ke Polsek Wonomulyo Polewali mandar, sejak 21 Agustus 2017 lalu. Sayangnya, Ismail dan keluarganya, termasuk saksi-saksi kejadian yang ada di lapangan saat ditemui di rumahnya mengaku keberatan dengan cara-cara kerja polisi yang dinilainya tidak profesional dan jauh dari rasa keadilan.

 

 

Menurut Ismail dan adiknya Hamzah, Sejak kasus pengeroyokan ini ditangani polsek Wonomulyo tidak berjalan  sebagaimana mestinya. Ismail menyebutkan, dari empat pelaku yang mengeroyok dirinya hingga sempat semaput dan berlumuran darah ketika itu, hanya satu pelaku yang ditetapkan penyidik sebagai tersangka, itu pun satu diantaranya jadi buron. Pada hal menurut Madjid keempat pelaku jelas-jelas terlibat menganiaya dirinya dan banyak saksi-saksi lain karena saat kejadian sedang ramai di sekitar lokasi.

 

 

“Karena yang terlibat ada empat pelaku dan banyak saksi-saksi saya yang bisa memberi keterangan, kok cuma satu yang ditahan. Harusnya kan semua yang terlibat bertangungjawab dan ditahan polisi,”jelas Ismail kepada wartawan yang menemui di rumahnya.

 

 

Ismail juga mneilai kerja-kerja polis dalam menangani kasunya terkesan snagat lamban. Pada hal kata Ismail pelakunya hanya orang kampung.

 

 

Hamzi dan Alif, dua saksi kejadian saat pengeroyokan terjadi hanya berjarak beberapa meter dari tempatnya juga membenarkan jika pelaku pengeroyokan terhadap kakek Ismail ada empat dari satu pelaku, yakni Ismail yang kini tahan polisi. Hamzi bahkan masih ingat detail peristiwa pengeroyokan yang tak seimbang saat itu. Hamzi bahkan sempat mempraktekkan bagimana keempat pelaku menggeroyok korban yang tak berdaya teersebut menganiaya korban.

 

“Saya dengan jelas mata kepala melihat bagaimana insiden pengeroyokan itu terjadi. Ada yang tinju, ada yang cekik bahkan ada yang menodongkan parang dan mengancam akan membunuhnya,”jelas Hamzi sambil memperagakan bagaimana korban dianiaya pelaku beramai-ramai.

 

 

Hamzah, saudara kandung korban Ismail mengaku sangat keberatan dengan cara-cara kerja polisi dalam menagani kasus pengeroyokan yang menimpa kakaknya. Hamzah mempertanyakan profesionalisme penyidikan polisi dalam menangani kasus seperti yang menimpa kakaknya. Hamzah mengaku heran, polisi hanya menetapkan dua tersangka itu pun satu diantaranya dinyatakan kabur, pada hal di lokasi ada banyak saksi-saksi kejadian. Hamzah bahkan mengaku ada banyak saksi yang ada dilokasi selain dirinya untuk membuktikan kasus penganiayan terhadap kakanya.

 

 

“Saya sebagai keluarga sangat keberatan dna tidak semestinya speerti ini penangananya. Kalau ada empat pelaku secara hukum semua harus diuproses jangan cuma satu, itu pun sampai memasuki tahun 2018 belum sampai ke pengadilan,”jelas Hamzah.

 

 

Sementara Mustaklim, pemilik lahan belasan hektar tempat insidne pengeroyokan terjadi menjelaskan, kehadiran korban di lokasi menggarap lahan tambak dan sawah atas permintana dirinya yang sedang mencari buruh tani yang bisa menggarap lahan yang baru saja ia menangkan di pengadilan. Lahan bernilai milyaran rupiah tersebut sebelumnya berstaus sengekta panjang hingga di menangkan Mustakim di pengadilan.

 

 

Saat korban sedang sibuk mengerjakan lahan pertanian tersebut para pelaku mendatangi dna mengeroyoknya di tengah lahan meski tanpa perlawanan kakek Ismail.

 

 

“Saya memang mencari penggarap lahan dan Ismail saya minta garap lahan saya itu, rupanya pihak yang kalah di PN tetap tidak rela lahan tersebut digarap pemiliknya,”jelas Mustakim.

 

 

Kanit Resum Polsek Wonomulyo, Ipda Mulyadi SH MSI yang ditemui di kantornya pekan lalu menyebutkan, dari laporanm kasus yang melibatkan Ismail dna empat pelaku yang dilaporkan korban, hanya dua diantaranya yang bisa dikbuktika secara hukum keterlibatan mereka dalam kasus pengeroyokan tersebut. Satu pelaku diantaranya bernama Mustakim dna satu tersangka lainnya bernama Aci alias Azis kini menjadi buronan polisi.

 

 

“Meski laporan korban terdapat 4 pelaku pengeroyokan namun yang berhasil dibuktikan dala proses penyidikan hanya empat orang. Satu diantaranya kini masih buron dna telah diyatakan DPO.,”jelas Mulyadi

 

 

Mulyadi menyatakan jika pihaknya mengetahui keberadaan Aci alias Azis pihaknya akan datang menjemput paksa dan melakukan proses pemeriksana terhadap keterlibatannya dalam kasus penganiyaan terssebut.

 

 

Meski sudah hampir setengah tahun, sejak kasus ini terjadi dan dilaporkan korban ke Polsek Wonomulyo 21 Agustus 2017 lalu, Mulyadi membantah lamban dalam menangani kasus Ismail. Menurut Mulyadi berkas perkara Madjid sudah bersatus BP2 dan sudah ditangan kejaksaan.


Bagikan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *