Distribusi Bantuan Tak Merata, Pengungsi Korban Tsunami Mengemis di Jalan Untuk Makan

Bantuan Bencana Alam Gempa Nasional News Sembako
Bagikan
  • 1
    Share

DONGGALA,LINI1.COM Distribsi bantuan yang tidak merata ke sejumlah titik-titik lokasi pengugsian di Donggala dan Palu Sulawesi Tengah pasca bencana gempa tsunami, Jumat Dua Pekan Lalu, membuat pengungsi di sejumlah titik lokasi kekurangan logistik makanan seperti beras, mie intant dan lauk pauk. Untuk bisa memenuhi kebutuhan dasarnya seperti makan dan minum secara rutin, sejumlah pengungsi terpaksa mengemis di jalan atau membiarkan anak-anak mereka mengemis belas kasihan dari para pengguna jalan untuk mendapatkan pembeli sembako.

Bantuan yang melimpah dari berbagai daerah ke posko induk di kota Palu Sulawesi tengah pasca gempa tsunami tak bisa dinikmati para pengungsi yang membutuhkan bantuan secara merata.

Ribuan korban gempa warga Donggala, Sulawesi Tengah yang masih tetap bertahan di tenda pengungsian di sejumlah lokasi dataran tinggi, karena khawatir masih seringnya terjdi gempa-gempa susulan, mengeluh karena kekurangan logistik makanan seperti beras, mie instan dan lauk pauk.

Pengungsi di Desa Tosale, Kecamatan Banawa Selatan, Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah ini misalnya mengungsi ke dataran tinggi sejak pasca bencana tsunami jumat petang lalu. Mereka mendirikan tenda-tenda darurat yang beralaskan tikar dan alas seadanya. Mereka masih takut dan trauma untuk kembali ke rumah karena takut jika suatu waktu terjadi gempa susulan.

Minimya bantuan yang sampai ke mereka mebuat pengungsi termasuk anak-anak mereka kekuarangan makanan. Pada hal mereka sangat membutuhkan bahan makanan seperti beras, air, pakaian, serta bahan makanan lainnya untuk menyambung hidup.

PENGUNGSI MENGEMIS DI JALAN 011

Untuk makan dan minum bersama anak-anak mereka di pengungsian, para pengungsi terpksa mengemis di jalan atau membiarkan anak-anaka mereka mengenis belas kasihan di jalan raya sambil menyodorkan kaleng kosong atau baskom kepada para pengguna jalan yang lalau lalang.

Untuk bisa bertahan hidup di tengah minimnya pasokan makanan terutama beras, nurlela misalnya mengaku terpaksa mengemis belas kasihan dari para pengendara yang lalu lalang di sekitar tenda pengungsian, atau meminta maknan dari warga terdekat dari lokasi pengungsian.

“Yang paling dibutuhkan iu beras. Selama ini Kalau bukan tetangga yang kasihan atau belas kasihan pengendara kita susah,”jelas Nurlela, warga korban gempa yang mengaku rumahnya rata dengan tanah di sapu tsunami.

Nurlela bingung, harus pulang ke mana nantinya, lantaran rumah dan harta benda yang ia kumpulkan bertahun-tahun bersama suaminya hancur dan rata dengan tanah setelah disapu tsunami.

Samsiah, salah satu pengungsi mengaku masih trauma dan enggan kembali ke desanya lantaran gempa susulan masih terus terjadi dan kerap mebuat panik parapengungsi. Samsiah bersama keluarga mengaku baru akan meninggalkan puncak pebukitan tempatnya mengungsi jika situasi gempa sudah aman.

“Kita masi teru bertahan karen msih sering terjadi gempa-gempa susulan yang bikin panik. Mungkin akalau situasiny sudah tenang baru kami akan pulang,”jelas Samsia, warga  pengungsi

Sementara reaksi protes warga di berbagai lokasi pengusian terhadap distribusi bantuan sembako yang dinilai tidak merata makin mendapat kritikan pedas para korban bencana. Mereka selama di pengunsian hanya menerima bantuan belas kasihan warga yan lalau lalang dan menyodorkan makanan atau apa saja yang bisa membantu para pengungsi. (MJNE-09).

 

Distribusi Bantuan Tak Merata, Pengungsi Korban Tsunami Mengemis di Jalan Untuk Makan

Gabung Bersama di Channel Youtube Kami : Lininews1


Bagikan
  • 1
    Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *