Bocah Pecandu Kopi 5 Gelas Sehari Diduga Korban dari Dampak Pernikahan Dini Orang Tuanya

Anak dan Problematikanya Budaya Kecelakaan Life Style Nasional News Polewali Mandar
Bagikan

POLEWALI MANDAR, KOMPAS.COM – Khadijah aura, bocah 14 bulan di Polewali Mandar, Sulawesi Barat diduga kecanduan hingga menghabiskan 5 gelas kopi tubruk sehari, salah satu pemicunya diduga karena faktor minimnya pengetahuan orangtua terhadap pola asuh anak yang rendah. Kedua orang tua bocah aura yang diketahui menikah dini dinilai menjadi serentetan pemicu masalah sosial lainnya hingga berdampak pada pola asuh anak yang.

Meski bocah Khadijah Aura, asal Desa Tondrolima, Kecamatan Matakali ini kini suduah mengkonsumsi susu dan mengganti kebiasaan buruknya mengkonsumsi kopi melebihi ambang batas kebutuhan kopi orang dewasa, namun kehidupan keluarga bocah kurang mampu di polewali mandar ini terus jadi perdebatan publik.

Minimnya pengetahuan orang tua bocah terhadap pola asuh bayi dinilai menjadi salah satu faktor pemicu hingga bocah aura ini terjerat jadi pecandu kopi tubruk, yang mengancam kesehatan dan tumbuh kembang diirinya. Sejak usia enam bulan, aura yang sudah ketagihan kopi, ia bisa menghabiskan 5 gelas atau setara 1,5 liter kopi tubruk buatan ibunya.

Kedua orang tua bocah aura, sarifuddin dan anita yang diketahui menikah dini atas restu orang tua kedua belah pihak juga dinilai menjadi masalah lain yang ikut berkontribusi menyumbang masalah sosial yang konplit. Anita diketahui berusia (15 tahun) menikah dengan sarifuddin saat ia masih berusia (17 tahun).

Kepala Dinas Kesehatan Polewali Mandar, Suaib Nawawi menyebutkan pernikahan dini atau anak dibawah umur di polewali mandar masih sangat dominan. Masalah sosial yang dihadapi keluarga sarifuddin-anita dinilai kadis adalah bagian dari dampak pernikahan usia muda hingga mebuat calon orang tua tidak hanya siap secara sosial,ekonomi namun juga tidak siap secara mental dan psikis.

Pemberian kopi pada bocah menuurut kadis bisa berpotensi merusak sistim kerja syarap, termasuk mempengurih kerja jantung  bahkan bisa menyebabkan anak mnegalami oestoprosis atau tulahng rapuh jika terus menerus mengkonsimsi kopi.

“Dalam jangka waktu lama pemberian kopi pada anak bisa berpotensi merusak sistim kerja syarap, termasuk mempengurih kerja jantung. Tak hanay itu juga bisa menyebakan osteoporosis pada anak,”jelas Suaib Nawawi, Kepala Dinas Kesehatan Polewali Mandar

Ketidaksiapan orang tua secara sosial, ekonomi maupun faktoir pisik dan psikis dalam menghadapi masalah rumah tangga dinilai kadis menjadi salah satu faktor yang membuat orang tua bayi kurang memahami tentang pola asuh anak yang baik dan benar bagi anaknya.

Menurut Suaib Nawawi, dari hasil investigasi pihak nya senin lalu diketahui kondisi kesehatan anak pertama dari pasangan anita 15 tahun dan suaminya syarifuddin  17 tahun dalam kondisi sehat.

Berat tubuh anak mereka juga normal yakni 10 kilogram di usia 14 bulan/ meski saatb ini pihak kesehatan kwatira bisa menyebabkan obesitas akibat kecanduan kopoi yang dicamour dengan gula takaran banyak.

Menyikapi viralnya bocah pecandu kopi 5 gelas sehari di polewali mandar, kepala dinas kesehatan polewali mandar, suaib nawawi menyebutkan, selain pihkanya telah menyalurkan bantuan susu dan biskuit kepada bocah aura, pihaknya juga telah menlakukan pendekatan kepada keluarga bocah aura, agar kebiasaan kopi yang membuat anknya aura ketagihan kopi bisa dihentikan.

Orang tua kedua bocah aura, sarifuddin dan anita pun menyambut positif saran berbagai pihak yang datang menjenguk ke rumah mertuanya, pasca kasus anaknya viral di media meanstream dan media sosial.

Anita yang ditemui di rumahnya menyatakan ia sudah mengajari anaknya melupakan kebiasaannya menyeruput kopi hingga ketagihan dengan cara memberi susu bantuan yang ia terima dari berbagai pihak.

Hanya saja, anita dan suaminya yang berprofesi sebagai buruh kupas kopra berpenghasilan rp 20 ribu sehari yang tak mampu membeli susu secara rutin untuk anaknya, mengaku hanya akan mengajari anaknya minum air putih saja nanti saat susu bantuan dermawan sudah habis, dan tak akan memberinya kopi lagi.

“Sekarang sudah saya ajari minum susu agar bisa melupakan kebiasaan minum kopi. Nanti kalau bantuan susunya sudah habis akan saya ajari minum air putih saja,”tutur Anita

Meski orang tua bocah aura, sarifuddin dan anita hidup menumpang dari rumah mertua ke rumah mertua lainnya, anita mengaku pendapatannya sebagai buruh kupas kopra tak mampu membeli susu secara rutin untuk anaknya,

Namun kepala dinas kesehatan kabupaten polewali mandar tetap bersikukuh membantah jika keluarga kecil aura tidak tergolong warga miskin atau kurang mampu. Alasanya, nenek aura tempat keluarga kecil aura menumpang bukanlah tergolong warga kurang mampu.  (BN_08)


Bagikan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *