Beralih ke Kedelai Lokal, Kualitas Tahu Tempe Diperotes Pelanggan

Ekonomi Impor Mamuju Nasional News
Bagikan
  • 1
    Share

MAMUJU,LINI1.COM – Keputusan pengusaha tahu dan tempe untuk beralih mengggunakan kedelai lokal, sejak harga kedelai imfor melambung tinggi, menyusul nilai tukar rupiah yang anjlok terhadap dollar, beberapa pekan terakhir, tak membuat usaha tempe dan tahu di Mamuju, Sulawesi Barat berjalan mulus. Sejumlah pedagang diperotes pelangganhya lantaran kualitas dan rasa tahu dan tempe produksinya tak sebagus dengan tempe yang dibuat dari kedelai impor yang dinilai kualitasnya memang jauh lebih baik dan lebih bersih.

 

Usaha para pengrajin tahu dan tempe mensiasati mahalnya harga kedelai imfor sebagai bahan baku utama produksi tahu dan tempe, dengan cara beralih menggunakan kedelai lokal yang harganya relatif lebih murah dari kedelai imfor tak membuat usaha produksi tahu dan tempe mereka tak berjalan mulus.

 

Budi Santoso, salah satu pengusaha tahu dan tempe di Mamuju kepada wartawan di lokasi produksi tempe tahu milik, Jumat (14/9/2018) kemarin mengaku terpaksa beralih menggunakan kedelai lokal yang kualitasnya dibawah kedelai imfor mengundang protes sejumlah pelanggan setianya. Alasannya produksi tahu dan tempe yang biasa mereka konsumsi menggunaan bahan baku kedelai impor kualitasnya tidak sama sejak ia beralih menggunakan kedelai lokal.

 

Komentar pelanggan makin kecut lantaran budi santoso juga mengurangi ukuran tahu dna tempe dari biansya, unutk mensiasati agar ia tak merugi dna usaha yang ia rintis belasan tahun lalu tetap bisa berproduksi, malah menuai protes pelanggannya.

 

“Sejak beralih menggunakan kedelai lokal banyak pelanggan yang protes. Kualitas Rasanya memang beda,”jelas Budi Santoso, Pengusaha Tahu Dna Tempe

 

Meski kualitas produk tahu dan tempe menggunakan bahan baku impor jauh lebih bagus dibanding kedalai lokal, namun sayang hingga kini harga kedelai imfor masih bertengger di kisaran Rp 8.700 perkilogramnya dari harga sebelumnya hanya 7000 perkilogramnnya.

 

Menurut Budi Santoso, tingginya nilai tukar rupaih terhadap dollar secara otomatis mebuat barang impor termasuk kedelai naik harga. Di mamuju sendiri kenaikan harga kedelai inpor sudah mengalami kenaikan harga sebanyak dua kali, dalam sepekan terakhir. Pada hal harga sebelumnya masih rp 7000 perkilogrammya.

 

Meski saat ini konsumen pengusha tahu dan tempe sudah mengeluhkan kondisi kualitas produksi tahu dan tempe yang tidak sama seperti sebelumnya, saat para pengusaha masih menggunakan bahan kedelai impor. Para pengusaha berharap harga kedelai imfor bisa segera normal dan ekonomis, agar para pengusaha bisa kembali menggunakan kedelaim imfor untuk melanjutkan roda usaha mereka. (MMJU-01).

 

Gabung Bersama di Channel Youtube Kami : Lininews1


Bagikan
  • 1
    Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *