Tasbih Raksasa 38 M Jadi Teman Ngabuburit Warga Polman Sambil Tunggu Buka Puasa

Budaya Cendekia Life Style Nasional News
Bagikan

POLEWALI MANDAR, LINI1.COM – Sebuah tasbih raksasa sepanjang 38 meter yang usianya diperkirakan mencapai 400 tahun lebih ini menjadi teman ngabuburit para jamaah mesjid di Polewali Mandar, Sulawesi Barat, sambil mennggu waktu buka puasa. Para jamaah tampak khusu melantunkan zikir dan doa usai sholat ashar berjamaah, hingga menjelang waktu magrib atau buka puasa. Tasbih raksasa in sendiri merupakan salah satu cagar budaya peninggalan ulama tokoh penyebar islam di tanah mandar.

Tasbih yang telah berusia ratusan tahun ini merupakan saksi peradaban sejarah masuknya agama islam di wilayah Kerajaan Binuang, Polewali Mandar, sekitar abad 16 lalu.

Tasbih raksasa yang panjangnya hamir mencapai 40 meter ini telah berusia lebih dari empat abad. Salah satu cagar budaya  ini dimiliki dan dirawat, muslimin, seseorang warga Kelurahan Amassangan, Kecamatan Binuang, Kabupaten Polewali Mandar, Sulawesi Barat.

Gabung Bersama di Channel Youtube Kami : Lininews1

Tasbih ini memiliki jumlah biji tasbih sebanyak 3.300 biji yang terbuat dari buah manjakani. Biji buah manjakani ini didatangkan langsung dari tanah suci mekah. Tasbih ini merupakan saksi peradaban sejarah masuknya agama islam di wilayah kerajaan binuang pada abad ke 16 lalu.

Menurut pemilik tasbih yang juga sebagai Imam Masjid Nurul Hidayah, Muslimin mengatakan, tasbih ini merupakan warisan dari nenek moyangnya yang bernama syekh abdul kadir atau haji mallawi. Syekh abdul kadir dikenal sebagai tokoh pertama kali menyebarkan agama islam di wilayah kerajaan binuang ratusna tahun lalu. Muslimin sendiri merupakan generasi keenam dan sebagai pewaris tunggal dari tasbih raksasa ini.

“Karena dianggap memiliki berkah, banyak bijinya sempat hilang karena diambil warga sata dipinjam dalam berbagai hajatan, sebagian bijinya sudha tidak asli lagi karena diganti dnegan biji lain,”jelas Muslimin, pemilik tasbih, yang juga sebagai imam Masjid Nurul Hidayah

Mnurut Muslimin, tasbih karya peninggala sejara keemasan Islam di tanah mandar ini banyak digunakan untuk berzikir sambil ngabuburit di bulan ramadhan.

Tasbih raksasa sepanjang 38 meter jadi teman ngabuburit jamah mesjid di polman sambil tunggu waktu buka uasa

Biasanya tasbih ini hanya digunakan atau dikeluarkan pada waktu-waktu tertentu saja. Biasnaya digunakan saat warga melangsungkan acara hajatan, tahlilan kematian warga kampung atau selama bulan ramadhan.

Selama rmadhan, tasbih digunakan warga berzikir usai shalat duhur, ashar atau taraweh berjamaah di masjid nurul hidayah amassangan binuang. Tasbih ini menjadi teman warga ngabuburit di sore hari sambil menunggu waktu buka puasa.

Tasbih Raksasa Sepanjang 38 Meter Jadi Teman Ngabuburit Jamah Mesjid di Polman Sambil Tunggu Waktu Buka Uasa

 

Saat ini tasbih raksasa masih tersimpan rapih dan aman di rumah muslimin, pemiliknya yang beralamat di kelurahan amassangan kecamatan binuang, polewlai mandar.

Sebelumnya, beberapa pihak pernah datang memintanya untuk dimasukkan kedalam museum, namun pemilik tasbih menolaknya. Alasannya, keluarga syeh abdul kadir ingin tetap melestarikan warisan sejarah tersebut.  (BN-07)


Bagikan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *