Siswa Korban Banjir Bandang Sekolah Sambil Berdesakan di Bawah Tenda Plastik

Bencana Alam Cendekia Inspirasi Mamuju Nasional News Pendidikan
Bagikan

MAMUJU, LINI1.COM – Puluhan siswa sd negeri samak, yang menjadi korban pengungsi banjir bandang dan gunung retak di kelurahan bebanga, mamuju, sulawesi barat, terpaksa belajar sambil berdesak-desakan di bawah tenda darurat beratapkan terpal plastik, tanpa dinding. Saat hujan aktifitas belajar kerap dibubarkan atau dipulangkan gurunya lebih awal karena kondisi sekolah darurat tersebut tak bisa digunakan belajar saat hujan.

Demi mengejar ketertinggalan mata pelajar sejak ditimpa bencana banjir bandnag awal maret lalu, puluhan siswa sekolah dasar negeri samak, yang ikut tinggal di pengungsian bersama orang tua mereka terpaksa harus belajar ditenda pengungsian denagn kondiis sekolah apa adanya.

Kondisi sekolah darurat yang di bangun warga secara swadaya ini berdiri di lingkungkungan pengungsian. Kondisinya sangat memperihatinkan. Guru dan siswa di sekolah darurat ini hanya belajar dalam kondisi seadanya.

Di sekolah darurat ini puluhan siswa mulai dari kelas satu sampai kelas enam belajar berdesa-desakan dibawah satu  tenda yang didirikan warag secara swadaya. Dua guru berstatus honorer setiap hari berusaha membimbing para siswa yang ikut mengungsi bersama orang tuanya, meski kondisi sekolahnya darurat.

“Tempatnya panas, banyak yang mengganggu jadi tidak bisa serius belajar,”jelas fian salah satu siswa di sekolah ini.

Gabung Bersama di Channel Youtube Kami : Lininews1

Para siswa mengaku belum bisa berkonsentrasi belajar di sekolah darurat ini untuk mengejar ketertinggalan mata pelajaran, pasca orag tua mereka mengungsi pasca banjir bandang dan gunung retak  awal maret lalu.

Tidak adanya dinding ruangan dna pembatas kelas membuat konsentrasi belajar para siswa kerap terpecah dengan aktifitas manusia yang lalu lalang di sekittar sekolah mereka.

Sekolah darurat ini dibangun secara swadaya para pengungsi. Minimnya terpal sumbangan warga membuat sebagian siswa harus rela berpanas-panasan saat cuaca terik matahari, karena sebagain ruangan tak memiliki atap terpal.

 

Siswa Korban Banjir Bandang Sekolah Sambil Berdesakan di Bawah Tenda Plastik

Meski sudah lama belajar dalam kondisi memperihatinkan seperti ini sejak orang tua mereka mengungsi, hingga kini belum mendapat apresiasi atau perhatian dari dinas pendidikan dan olahraga atau pemerintah setempat.

Sejumlah warga menilai seharusnya pemerintah setempat turun tangan mencari solusi yang dihadapi warga pengungsi. Minimal mencari tempat belajar yang lebih layak, agar-anak sekolah yang ikut terdampak bebcana ini ini pendidikan mereka tidak menjadi korban

Seorang guru honorer, suhardi mengatakan, sekolah darurat yang menampung enam kelas ini kondiisnya sangat memprihatinkan. Saat hujan aktifitas belajar kerap dibubarkan atau pulang lebih awal karena siswa tak bisa belajar dibawah guyuran hujan.

“Kalau hujan biasa aktifis belajar bubar atau dipulangkan karena tidak bisa belajar di bawah tenda saat hujan,”jelas Suhardi, salah satu guru honorer yang setia mendidik para siswa pengungsi

Suhardi menyebutkan, selain kekurangan atap terpal untuk menutupi dinding ruang kelas, saat ini siswa sdn samak juga kekurangan buku pelajaran. Sebelumnya buku pelajaran yang digunakan secara bergantian di sekolah umumnya rusak dna hancur terendam air banjir.

Siswa korban banir bandang di Mamuju sulawesi barat sekolah sambil berdesakan di bawah tenda plastik

Selain itu siswa juga kekurangan baju seragam sekolah, dimana baju seragam sekolah yang biasa digunakannya sebelumnya hanyut terbawa arus banjir bandang lalu. Agar siswa tetap semangat belajar, dua guru yang setiap membimbing para siswa hanya menggunakan buku bekas.

Praktis, siswa yang kehilangan seragam sekolah karena tersapu banjir bandang datang ke sekolah darurat ini hanya menakai baju biasa. Sebagain siswa memaki sepatiu lainya hanya meakai sandal. Beberapa siswa bahkan datang ke sekolah tanpa alas kaki.

Guru di sekolah milik pemerintah ini berharap agar ada bantuan seragam sekolah, buku tulis, buku-buku bacaan dan ada tempat belajar darurat yang lebih layak, agar para siswa bisa belajar dengan lebih baik.  (MT-9)


Bagikan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *