Kakek Sebatangkara di Gubuk Reyot Berlantai Tanah dan Beratap Ilalang Kerap Menepi Saat Gubuknya Kehujanan

Mamuju Tengah Nasional News Pendapat Publik Sembako
Bagikan
  • 1
    Share

MAMUJU TENGAH,LINI1.COM – Marniyah (67 tahun), seorang kakek sebatangkara di Mamuju Tengah, Sulawesi Barat. Memilih bertahan hidup di sebuah gubuk reot berlantai tanah dan beratap ilalang, sejak 30 tahun terakhir.  Sejak istri yang dicintainya meninggal dunia di gubuk tersebut, beberapa tahun lalu, praktis tak ada lagi yang menjadi pelipur lara dikala ia bergembira atau tengah bersedih. Sang kakek yang mengaku tak ingin menjadi beban warga atau orang lain di sekitarnya mengaku akan bertekad meilih bertahan hidup di gubuknya hingga ajal menjemputnya.

Gubuk reot berlantai tanah dan beratap ilalang ini tampak sudah bocor di sana sini, karena lapuk dimakan usia. Di tempat inilah Marniyah (67 tahun), kakek sebatangkaya di desa Kumbiling, Kecamatan Pangalle,  Mamuju Tengah, Sulawesi Barat, menghabiskan sisa hidupnya, sejak 30 tahun terakhir.

Gubuk reot beratapkan ilalang dan dinding-dindingnya tampak dipenuhi potongan seng lapuk, spanduk dan poster-poster caleg yang sudah usang. Sejumlah konstruksi bangunan gubuknya sudah lapuk di sana-sini. Atapnya pun tampak bocor di sana sini. Sepintas gubuknya terlihat layaknya kandang ayam.

Gabung Bersama di Channel Youtube Kami : Lininews1

 

Saat musim hujan seperti saat ini, marniyah yang tertidur lelap, kerap terjaga dinihari karena basah kuyup diguyur hujan hingga harus menepi ke sisi rumahnya yang tidak bocor.

Tak ada faslitas atau perabot istimewah di dalamnya. Hanya ada sebuah radio tua yang sudah belasan tahun rusak, namun tetap dipajang di lemari lusuh di gubuknya. Tak ada penerangan listrik pln atau televisi yang bisa menjadi sarana hiburan di kalah ia sedang kesepian atau lelah bekerja sebagai buruh sawit. Hanya ada beberapa buah panci tua dan piring kaleng yang dibiarkan berserakan di atas ranjang tua miliknya..

Beberapa lembar pakaian lusuh miliknya hanya dibiarkan bergelantungan di sana-sini. 

“Saya bangga dan bersykur sanak tetangga dan kenalan waktu saya masih mudah dan kuat bekerja banyak yang peduli. Mereka kasih saya apa saja termasuk beras dan makanan,”tutur Marniyah, Pria Pemilik Rumah Beratap Ilalang

Kepala Dinas Sosial Mamuju Tengah, Asmira Djamal mengaku telah mendapatkan laporan soal kondisi sang kakek yang tinggal digubuk berlantai tanah dan beratap ilalang. Sebelum menyalurkan bantuan sosial dinsos akan meinjau dna bersilaturrahmi ke ruamh sang kakek terlebih dahulu.

Transmigram asal Pulau Jawa ini bekerja sebagai buruh perkebunan kelapa sawit bersama almarhum istrinya, sejak 30 tahun lalu. Namun sejak sang istri meningal belasan tahun lalu, praktis marniyah hanya seorang diri menghadapi sisa hidupnya.

Tubuhnya yang ringkih dan usianya yang makin senja mebuat ia mulai kesulitan berjalan jauh. Marniyah tampak hanya berpasrah menerima kondiri hidupnya. Namun  ia menhgaku bangga karena orang-orang di sekitarnya cukup prihatin dnegan kondisi hidupnya. Para warga kampunglah yang kerap menyubangkan beras atau makanan apa saja jika snag nenek sednag kehabisan bahan makanan.

Selama hampir 30 tahun di rumah yang berukuran tiga kali empat meter, seluruhnya dituutp rapat tanpa cahaya dengan potongan seng lapuk dan spanduk caleg yang sudah usang agar bisa tidur lebih nyaman di malam hari. Sirkulasi udara yang tidak lancar membuat gubuknya tampak pengab dan bau  asap.

Meski penuh keterbatasan, namun tak pernah terlontar sepatah kata pun menyerah dari keadaan. Marniyah mengaku selalu bersyur selama allah masih memberikan kesehatan padanya. (mn-08).

 

Kakek Sebatangkara di Gubuk Reot Berlantai Tanah dan Beratap Ilalang Kerap Menepi Karena Gubuknya Kehujanan

 


Bagikan
  • 1
    Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *