Peneitian BMKG Pusat Bantah Gempa Mamasa Berpotensi Likuifaksi

Bencana Alam Gempa Mamasa Nasional News
Bagikan
  • 1
    Share

MAMASA,LINI1.COM – Berdarskan hasil penelitian yang dilakukan Badan Meteorologi, Klimatologi Dan Gofisika (BMKG) pusat di 17 titik lokasi di Mamasa, Sulawesi Barat menyimpulkan rentetan gempa-gempa susulan yang mirip dengan  gempa swar yang mengguncang Mamasa Sulawesi Barat sejak dua pekan erakhir, tidak berpotensi menimbulkan Likuifaksi seperti yang menelan warga Palu akhir Septemebr 2018 lalu. Struktur dan tekstur tanah Mamasa dipastiakan adalah bebatuan keras yang sangat kecil bisa menimbulkan Potensi Likuifaksi seperti menimpa Palu dan beberapa daerah lainnya di Indonesia.

Kekhawatiran dan kecemasan warga Mamasa akan terjadinya gejala likuifaksi seperti yang menelan pemukiman warga Palu Sulawesi Tengah, pada akhir September lalu, menyusyul gempa beruntun yang terus mengguncag warga sejak dua pekan terakhir dibantah pihak BMKG Pusat.

Data  BMKG mencatat, distribusi gempa Mamasa dan sekitarnya tertangga 03 november-20 november 2018, gempa yang teranalisa 713 kali dan yang dirasakan 235 kali.

Berdasarkan penelitian tim  BMKG pusat, gempa yang terus melanda Mamasa sejak dua pekan terakhir, mirip dengan gempa swarm. Gempa dengan frekuensi sering terjadi yang durasinya biasa cukup lama, namun dengan kekuatan kecil.

Abdul Rosid, Kepala Bidang Informasi Gempa Bumi dan Peringatan Dini Tsunami  BMKG pusat menjelaskan, berdasarkan penelitian  yang di lakukan selama gempa mamasa yang mirip dengan gempa swarm di 17 titik lokasi di mamasa dinyataka tidak berpotensi menimbulkan likuifaksi.

0752411183_SULBAR_BMKG BANTAH GEMPA MAMASA BERPOTENSI LIKUIFAKSI 2A 002

Dari hasil penelitian di 17 titik lokasi memastikan bahwa struktur tanah di mamasa padat dan terdiri dari bebatuan padat yang sangat kecil bisa menimbulkan potensi likuifaksi seperti yang banyak dikhawatirkan warga mamasa yang diguncang gempa lebih dari dua pekan terakhir.

“Dari hasil penelitian BMKG diketahui struktur tanah di Mamasa ini adalah batuan keras sehingag sangat kecil kemungkinan terjadinya likuifaksi meski diguncang gempa beruntun,”jleas Abdul Rosid, Kepala Bidang Informasi Gempa Bumi Dan Peringatan Dini Tsunami  Bmkg Pusat

BMKG mengakui frekwensi gempa-gempa yang terjadi sejak lebih dari dua pekan di Mamasa bersakala 3.0 SR higga 5.5 SR yang kekuatanya relatif kecil, memang sering terjadi dan belum diketahui sampai kapan gempa-gempa tersebut berakhir. Alasanya setiap titik lokasi bisa berbeda-beda. Di sejumlah lokasi gempa di indonesia gempa-gempa susulan bisa terjadi hingag dua bulan, namun itu berbedadi tempat lain mungki frekwesi gempanya bisa lebi cepat aman.

Menurutnya, gempa bumi swarm yang perna terjadi di daerah lain bisanya durasinya cukup lama. Bisa berlangsung 1-2 bulan sperti yang perna terjadi di jailolo, halmahera barat.

Namun untuk potensi likuifaksi, sangat kecil sekali kemungkinan terjadi bahkan tidak ada, karna kondisi tanah di mamasa sangat keras dan padat, serta bebatuan, sangat beda dengan kondisi tanah yang ada di palu.

Sejak gempa mamasa, dua pekan terakhir, warga di himbau agar tidak panik, namun tetap waspada dan mengindari bangunan tembok jika gempa kembali terjadi. Caraini dilakukan agar tidak menimbulkan korban jiwa.  (MMAS_08).

 

Peneitian BMKG Pusat Bantah Gempa Mamasa Berpotensi Likuifaksi

 

Gabung Bersama di Channel Youtube Kami : Lininews1


Bagikan
  • 1
    Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *