Cerita Perjuangan Arya Jalan Kaki 3 hari Demi Menyerahkan Diri ke Rutan Majene

Bencana Alam Hukum & Kriminal Inspirasi Legislatif Mamasa Nasional News Panwaslu Pilkada Sulawesi
Bagikan
  • 1
    Share

MAJENE,LINI1.COM – Arya (41), seorang narapidana lapas kelas IIA Palu, Sulawesi tengah yang memilih kabur dari penjara karena trauma dan ketakutan saat gempa dan tsunami Palu dan Donggala, Jumat (28/9) lalu, memilih menyerahkan diri ke rutan kelas IIb Majene, Sulawesi barat, Kamis (25/10/2018) lalu. Untuk meninggalkan kota Palu, Arya berjuang melawan lapar dan haus sambil berjalan kaki selama tiga hari hingga ia bisa tiba di perbatasan Donggala, Pasangkayu sulawesi barat. Ia sempat mengemis biaya makan dan transfortasi di terminal Pasangkayu agar dapat ongkos pulang ke kampung halamannya di Majene.

Narapidana bernama lengkap Arya Bin Muhammad (41), alamat Luaor, Desa Bonde, Kecamatan Pamboang beralasan keluar dan kabur dari rutan Palu untuk menyelamatkan diri dari bencana gempa dan tsunami. Arya memilih pulang ke kampung halamannya di desa Bonde Majene untuk menenangkan diri saat ratusan napi an tahanan lainya juga kabur dari tahanan karena alasan serupa.

Narapidana kasus Ilelloging yang divonis dua tahun penjara ini memilih menyerahkan diri Ke Rutan Klas IIB Majene pada Jumat (19/10) dengan diantar keluarganya. Selama beberapa hari sebelum menyerahkan diri, Arya tinggal bersama keluarganya di Dusun Luaor, Desa Bonde.

Arya yang ditemui di rutan Majene, Sabtu (27/10/2018) menceritakan kisah perjuangannya meninggalkan kota Palu pasca gempa dan tsunami menguncang Palu, Sigi dan Donggala akhir september lalu.

napi palu 02 001

Karena trauma dan ketakutan Arya sempat berjalan kaki selama tiga hari tiga malam dari kota Palu untuk bisa sampai ke perbatasan Donggala dan kabupaten Pasangkayu, Sulawesi barat. Di sepanjang jalan ia sempat meminta makanan kapada warga yang dilaluinya. Selma tiga hari menempuh perjalanan dari kota Palu ke perbatasan Donggala, Pasnagkayu, Arya mengau hanya makan selama dua kali, selebihya melwa rasa lapar dan haus di tengah suasana kemapniakan semaua warga yang ia lalu pasca gempa tsunami.

“Tidak ada kendaraan karena jalan-jalan putus setelah gempa,”tutur Arya mengaku memilih menjalani sisa masa tahanannya setelah menyerahkan diri di lapas Majene, karena trauma kembali ke Palu.

Untu bisa naik kendaraan dari Pasangkayu ke kampung Halamannya di desa Bonde Majene, Arya sempat mengemis di terminal Pasnagkayu kepadawarga dna pengendara yang lalu lalang untuk mendapatkan biaya trasfortasi dan makan ingga ke kampung halamanya.

Di depan petugas Lapas Majene Arya mengaku datang menyerahkan diri di Lapas Majene sebelum ia dicari petugas. Arya sudah menjalani masa tahanan selama lima bulan lebih dan mendapat remisi tiga bulan selama menjalani masa tahanannya di lapas Palu.  

Kepala Rutan Klas IIB Majene I Wayan Nurasta Wibawa  mengatakan, napi atas nama Arya bin Muhammad telah menyerahkan diri ke Rutan Klas IIb Majene untuk menjalani sisa pidananya. Arya divonis hukuman 2 tahun penjara, dan telah menjalani hukuman selama 5 bulan.

“Dari pengakuan Arya, ia terpaksa kabur dari penjara untuk menyelamatkan diri saat bencana gempa dan tsunami menerjang Palu. Kami juga menghimbau agar teman-teman warga binaan yang keluar saat gempa di Palu dan Donggala yang belum melaporkan diri agar segera melapor ke tempat asal, atau UPTD Pemasyarakatan sekitar, termasuk kalau ada
warga binaan asal majene,”himbaunya.

Karutan menyatakan, sesuai surat edaran Dirjen Kemenkumham agar tahanan yang meninggalkan lapas Palu saat gempa dan Tsunami lalu, agar kembali ke Lapas Palu atau ke lapas asal mereka. Menurut Karutan Arya telah menjalani sisa masa tahanan di rutan Majene sejak ia resmi menyerahkan diri ke Rutan Majene diantara keluarganya, Kamis lalu.  (MJNE_02).

 

Cerita Perjuangan Arya Jalan Kaki 3 hari Demi Menyerahkan Diri ke Rutan Majene

Gabung Bersama di Channel Youtube Kami : Lininews1


Bagikan
  • 1
    Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *