30 Saksi Dugaan Korupsi Pengadaan Benih Rp 1,6 M di Dinas Pertanian Sulbar Diperiksa Maraton

Eksekutif Hukum Korupsi Nasional News Pasangkayu Yudikatif
Bagikan
  • 1
    Share

PASANGKAYU,LINI1.COM Sejumlah oknum pejabat di lingkup pemprov sulbar yang diduga turut mengetahui aliran dana dugaan korupsi pengadaan benih padi di Dinas Pertanian, Provinsi Sulawesi Barat, senilai 1,6 miliar yang bersumber dari dana Apbn tahun 2016 lalu, terus diperiksa pihak kejaksaan negeri kabupaten pasangkayu. Kejari telah menjadwalkan 30 saksi termasuk pejabat di dinas pertanian Sulbar yang diduga mengetahui aliran dana yang merugikan petani dan keuangan negara tersebut.

Kejaksaan Negeri Pasangkayu, Sulawesi Barat yang tengah mengendus adanya dugaan praktek kongkalikong pengadaan benih padi di Dinas Pertanian, Provinsi Sulawesi Barat, senilai Rp 1,6 miliar yang bersumber dari dana Apbn Tahun 2016 terus memeriksa saksi-saksi terkait dugaan praktek korupsi berjamaah yang merugikan petan dan keungan negaramilyaran rupiah padi 2016 lalu.

Kejaksaan Negeri Mamuju Utara, Kabupaten Pasangkayu telah menjadwalkan pemeriksaan secara maraton terhadap 30 orang saksi yang juga diduga mengetahui pengadaan benih padi senilai Rp 1,6 miliar yang diduga sarat kongkalikong tersebut.

Ketua pokja pengadaan bibit, Adnan dan sejumlah saksi lainnya yang diduga mengetahi aliran dana pengadaan bibit yang dijawalkan akan menjalani pemeriksasaan maraton, mangkir dari panggilan kejaksaan pekan lalu.

Kepala Tindak Pidana Kusus Kejaksaan Negeri Mamuju Utara, Hijaz Yunus yang ditemui di ruang kerjanya Rabu (26/9/2018) mengatakan, dugaan adanya penyimpangan pengadaan benih padi dengan terbitnya dua kontrak kerja berbeda yang dikerjakan oleh satu perusahaan yang sama.

Selain itu, Hijaz menjelaskan, benih padi sesudah penangkaran akan diberi lebel dan disimpan di gudang Ud Karya Mandiri di Polewali selaku rekanan. Proses penyimpanan tersebut memerlukan waktu sekitar dua minggu. Benih bantuan petani dari apbn tersebut rencananya akan diedarkan pada agustus 2016 lalu, setelah dilakukan perhitungan dan dinyatakan cukup.

Namun berdasarkan hasil penyidikan yang dilakukan oleh pihak kejaksaan, menurut hijaz benih padi tersebut justru telah diedarkan sebelum bulan agustus di wilayah Kabupaten Pasangkayu. Hijas menilai ada kerancuan dalam pengadaan benih padi ini. Alasannya, mana mungkin bibit dikatakan cukup di gudung rekanan pada bulan Agustus 2016, sementara benih telah faktanya beredar sebelumnya.

“Ada 30 saksi termasuk pejabat di dinas pertanian Sulbar yng akan kita periksa secara maraton. Mereka diduga mengetahui aliran dana bantuan benih yang dikucurkan ke petani,”Hijaz Yunus, Kapidsus Kejari Matra.

Ditanya soal apakah sudah ada tersangka yang ditetapkan dalam kasus ini hijaz menjelaskan calon tersangka ada, namun pihaknya belum bisa mejelaskan siapa nama calon tersangka yang dimaksud, namun pihak kejaksaan hingga saat  ini masih terus melakukan pemeriksaan terhadap sak – saksi untuk melengkapi alat bukti. (MPAS-08).

Gabung Bersama di Channel Youtube Kami : Lininews1


Bagikan
  • 1
    Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *