Rubiana Melahirkan 4 Anak Tiap Tahun di Gubuknya Seorang Diri

Anak dan Problematikanya Budaya Kesehatan Mamuju Nasional News
Bagikan
  • 1
    Share

MAMUJU,LINI1.COM – Gagal mengatur jarak kehamilan dan kelahiran anaknya, seorang ibu rumah tangga di Mamuju, sulawesi barat melahirkan empat orang anak dengan selamat, setiap tahunnya. Anehnya, ia berjuang melahirkan anaknya seorang diri di gubuknya, saat suaminya sedang bekerja di luar kampung. Meski hamil dan anaknya sakit-sakitan karena menderita gizi buruk sejak lahir, keluarga miskin ini tak bisa mengakses pelayanan rumah sakit lantaran keluarga tak mampu ini tidak mengantongi kartu BPJS Kesehatan.

Di gubuk berdinding bambu, berukuran 2×3 meter di Dusun Saluleang, Desa Saletto, Kabupaten Mamuju inilah Rubiana (30 tahun) melahirkan dan merawat empat orang anaknya seorang diri. Suaminya, Mustari (28 tahun) sedang bekerja serabutan di luar kampung, sejak anak keempatnya, berusia 2 bulan masa kehamilannya.

Anak pertama pasangan Rubiana – Mustari baru berusia sekitar empat tahun lebih, sedang anak keduanya, baru berusia sekitar 3 tahun. Anak ketiga Rubian, Hendrik (2 tahun) menderita gizi buruk dan lumpuh, sedang anak bungsunya baru berusia sekitar satu bulan.

Rapatnya jarak kehamilan dan kelahiran anaknya, membuat jarak usia anak Rubiana dengan anaknya lainnya tak melebihi satu tahun. Tak heran saat keempat anak-anaknya kumpul bersama di rumah nyaris tak bisa dikenali anak sulung hingga anak bungsunya, lantaran postur tubuhnya nyaris tak berbeda jauh dengan kakak dan adik-adiknya.

Tak Hanya Rubiana yang kesulitan mengakses pelayanan kesehatan, keempat anaknya yang tidak mengantongi kartu BPJS juga tak bisa menikmati pelayanan kesehatan yang seharusnya menjadi tanggungjawab negara, terutama kepada warga kurang mampu seperti keluarga Rubiana.

Anak ketiga dari empat bersuadara, Hendrik (2 tahun yang mederita gizi buruk dan mengalami kelainan lambung hingga perutnya membengkak sejak lahir tak bisa dibawa Rubiana berobat ke rumah sakit setempat karena alasan tak meimiki kartu BPJS.

Meski usia Hendrik sudah memasuki dua tahun, namun bocah yang diduga mengalami kelumpuhan karena kurang gizi ini hanya bisa duduk dilantai atau di pangkuan ibunya, tanpa bisa berdiri apalagi berjalan untuk memenuhi hajat dasarnya seperti makan, minum atau sekedar bermain bersama teman-teman tetangga seusianya.

Bocah asal Dusun Saluleang, Desa Saletto, Kabupaten Mamuju ini seharusnya sudah bisa berjalan dan berbicara sepeti anak-anak seusianya. Namun yang tampak lesu dan kehilangan gairah ini hanya bisa terdiam dan duduk di tempatya. Tulang belakangnya terlihat bengkok kala didudukkan. Tak jarang ia merintih seperti kesakitan.

“Waktu dilahirkan, mata dan perutnya besar. Sempat dirawat di RS beberapa hari, saya bawa pulang untuk berobat kampung,”ujar Rubiana

Kondisi keluarga miskin ini cukup memiriskan hati, gubuk bambu beratap daun rumbia ini dihuni enam anggota keluarga, empat anak dna dua oran tua. Padahal ukurannya tak lebih dari 2×3 meter. Tak adaperabotan istimewa.Jangan peralatan elektronik seperti radio dan TV, jumlah piring dan peralatan masak di gubuknya bisa dihitung jari. Praktis ruangan berukuran 2×3 m2 setiap hari berpungsi ganda, selai menjadi ruangan keluarga, makan dna tidur juga menadi ruangan untuk menjamu tamu yang datang menjenguk atau bersilaturrahmi ke rumahnya.

Sejumlah aktifis dan lembaga sosial termasuk kepolisian yang prihatin dengan kondisi keluarga Rubiana yang berempati bergantian datang menjenguk dan mengulurkan bantuan sekadarnya.

Lembaga Nasyiatul Aisyiyah (NA) Sulbar, Sebuah organisasi sosial yang digerakkan remaja putri Muhammadiyah yang mengatensi berbagai masalah sosial terutama terkait anak stunting atau kekurangan gizi, terpanggil untuk mengulurkan tangan kepada bocah gizi buruk dan keluarganya ini.

“Salah satu program NA adalah zero stanting, ini adalah gerakan pemenuhan gizi nasional pada perempuan dan anak-anak,” kata Idawati Musyawarah, Ketua Pimpinan Wilayah NA Provinsi Sulbar.

Selain menyalurkan makanan dan susu instan kepadakeluarga rubiana,  Ketua NA Sulawesi Barat, Idawati Musyawarah menyatakan pihaknya berkomitmen mendampingi Hendrik dan keluarganya, agar anak tersebut tidak terlantar dalam krisis pemenuhan gizinya.

Selain Hendrik dan keluarganya di Saletto, NA juga melakukan pendampingan serupa kepada Saparuddin dan dua kakaknya di Simboro, dan satu lagi balita penyandang gizi kronis di Kalubibing, Mamuju. NA akan membantu melakukan pengurusan BPJS agara bocah miskin tersebut bisa mendapatkan pelayanan kesehatan dan tumbuh sehat seperti anak-anak seusianya.

“Kami melakukan pendampingan ini, karena Sulbar menurut data sangat tinggi stunting, tertinggi kedua di Indonesia,” ucap Ida, Minggu (23/9) sore

Rubiana yang sempat prustasi menghadapi kesulitan hidup seorang diri, kini mulai tampak sedikit legah setelah sejumlah pihak mennjukkan empati kepada keluarga kecilnya. Ia berharap Hendrik anak ketiganya yang mederita gizi buruk kelak anaknya bisa sembuh dan tumbuh normal seperti anak lainnya.

Rubianya menitip harapan besar kepada siapa para dermawan atau pemerintah setempat untuk memberi perhatian agar anaknya bisa mendapatkan biaya kesehatan untuk anaknya.

“Saya berharap pemerintah bisa mengobati Hendrik dan memperbaiki rumah saya,” ujar Rubiana dengan mata Nanar penuh harap. (MMJU-05).

 

Rubiana Melahirkan 4 Anak Tiap Tahun di Gubuknya Seorang Diri

Video : Harmegy Amin

Gabung Bersama di Channel Youtube Kami : Lininews1


Bagikan
  • 1
    Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *