Sara

250 Musisi Serukan Perdamaian tanpa Prasangka Sara dan Rasisme

Budaya Majene Mamuju Tengah Musik News Wisata Edukasi
Bagikan

POLEWALI MANDAR,Lini1.com – Lahir dari sebuah keperihatinan banyaknya konplik-konplik bernuansa Sara dan Rasisme di berbagai daerah belakangan ini, mendorong semangat komunitas seniman dan musisi muda di Polewali Mandar sulawesi barat untuk ikut terpanggil menggelorakan semangat perdamaian awal tahun 2018 tanpa prasangka rasis dan sara.

Kegiatan yang digelar di alun-alun kota Polewali mandar, Selasa siang (23/1/2018) kemarin ini semula hanya ditargetkan panitia diikuti sekitar 100 peserta, namun diluar dugaan jumlah peserta yang hadir mencapai lebih dari 250 seniman dan musisi muda.

Cuaca panas yang membakar kulit di alun-alun kota Polewali mandar, Sulawesi barat, Selasa siang kemarin tak membuat sekitar 250 seniman dan musisi muda asal Polewali Mandar ini bergeming.

Para seniman yang selama ini hanya aktif di tengah-tengah komunitas mereka yang terpisah, kini terpanggil untuk menggelar konser kolaborasi bertema “Dari Polewali mandar untuk Indonesia”. Satu persatu komunitas seniman dan musisi yang datang dari berbagai etnis dan agama ini bergantian tampil menunjukan atraksi dan kemampuan mereka berksenian dan bermusik di lokasi air mancur ala Singapura di Polewali mandar ini.

Meski para seniman dan musisi muda ini datang dari beragam latar belakang sosial, agama dan suku yang berbeda, namun seni yang universal dan wadah konser kolaborasi itu menyatukan mereka.

Tak hanya menampilkan berbagai musik beraliran moderen dan kontemporer, namun juga menyajikan atraksi kesenian tradisonal seperti rebana, tarian khas mandar dan kesenian Calong, salah satu kesenian khas mandar yang terbuat dari batok kelapa dan belahan bambu yang disusun sedemikian rupa hingga menghasilkan irama musik yang indah.

Konser kolaborasi yang didorong oleh semangat untuk meneguhkan nilai-nilai perdamaian dan kemanusiaan tanpa prasangka Sara dan Rasisme di Polewali Mandar ini disambut antuasias, terutama para seniman dan musisi muda yang datang dari berbagai latar belakang sosial dan kesenian yang mereka geluti selama ini. Sejumlah lagu-lagu perjuangan yang memupuk semangat nasionalisme Indonesia ikut digelorakan.

Semula konser kolaborasi ini hanya menargetakan 100 seniman dan musisi muda, namun ternyata disambut antusias para seniman dan musisi di Polewali mandar. Panitia mencatat sebanyak 250 komunitas seniman dan musisi muda di Polewali mandar ikut memeriahkan konser kolaborasi untuk poertama kalinya di gelar di alun-alun kota Polewali mandar.

Koordinator Acara, Alvin menyebutkan, panitia tak menduga peserta konser yang semula hanya diperkirakan akan dihadiri 100 musisi dan seniman, ternyata dihadiri lebih dari 250 seniman dan musisi muda dari berbagai komunitas yang tumbuh dan berkembang di Polewali Mandar selama ini. Menurut Alvin konser Kolaborasi ini juga menjaid ajang silaturrahmi para seniman di Polewali mandar dan Majene yang dikemas dalam semangat saling berbagi Pengalaman berkesenian agar kelak bisa menghasilkan karya yang lebih produktif dan positif.

“Semula panitia hanya manargetkan 100 musisi seperti pamplet dan brosur yang disebar panitia, belakangan ternyata pesertanya membludak dan mencapai lebih dari 250 seniman dan musisi,”jelas Alvin.

Ketua panitia yang juga ketua Forum Komunikasi Musisi (Formasi) Polman, Hazairin menyebutkan, Semangat konser kolaborasi para musisi dan seniman ini merupakan ajang pembuktian jika seniman dan musisi Polman layak jadi panutan dengan semangat dan karya-karya terbaik mereka.

Menurut Hazairin, konser kolaborasi para seniman berbagai gendre ini mendapat banyak support dan respon yang positif. Terbuklti pesertanya membludak dari semula hanya ditargetkan 100 peserta, namun belakangan jumlahnya diluar dugaan.

Hazairin menyatakan, ke depan konser serupa dalam menyerukan perdamaian tanpa prasangka sara/rasis ini akan terus digiatkan sebagai forum atau ajang silaturrahmi antara para seniman dan musisi Polewali Mandar. Formasi Polman bahkan berencana menggelar konser kolaborasi berskala propinsi Sulbar yang menargetkan akan dihadiri sekitar 1200 Seniman dan musisi dari berbagai gendre.

“Kita sedang menggagas konser kolaborasi dengan skala Provinsi yang lebih luas.

Kita menargetkan dari 250 menjadi 1200 musisi dan kita berupaya ini bisa memecahkan rekor muri,”jelas Hazairin.

Hazairin menegaskan Formasi Polman yang menjadi wadah berkumpul dan bersilaturrahmi para seniman dan musisi muda di Polman akan terus berkarya dengan hal-hal yang positif dan berkomitmen menjadi terdepan dalam menyerukan semangat perdamaian dan kemanusiaan tanpa prasangka rasisme dan tanpa sara. 


Bagikan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *